Monday, August 25, 2014

Mendisiplinkan Diri Kunci Kesuksesan Menulis


Mendisiplinkan Diri Kunci Kesuksesan Menulis

Sudah tidak lazim lagi bahwa Profesi penulis sering dikaitkan dengan kemewahan bagi masyarakat umum . Popularitas J.K. Rowling dan Stephen King memang telah memunyai daya tarik tersendiri, sebab dalam sekejap mereka sudah melihat buku-buku mereka masuk dalam daftar buku laris versi surat kabar New York Times dan meraup jutaan dolar dari royalti mereka. Sayang saja, menulis memerlukan disiplin ketekunan sebagaimana pekerjaan lainnya. Jika Anda rindu menjadi seorang penulis penuh waktu atau penulis lepas, Anda perlu mengembangkan keahlian yang tepat dan belajar mendisiplinkan diri. Dengan demikian, Anda bisa merasa yakin akan sukses!

Mendisiplinkan Diri Kunci Kesuksesan Menulis
    1. Menulislah
 Tidak seorang pun belajar bermain piano hanya duduk-duduk di sofa sembari menonton sinetron atau sekadar membayangkan kunci-kunci piano. Keahlian menulis juga perlu diasah sampai kata-katanya mulai dapat dinikmati oleh penulis dan pembaca.

     2. Luangkanlah waktu untuk menulis.
Agar Anda bisa berkonsentrasi, Anda perlu menetapkan waktu tertentu tanpa boleh diganggu. Artinya, Anda perlu disiplin. Terkadang kata-kata tidak akan mengalir; kalau terjadi demikian, Anda sebaiknya tetap duduk menatap layar atau lembaran kertas sampai waktu menunjukkan sesi menulis Anda sudah berakhir. Disiplin menuntut Anda wajib menulis, walaupun Anda merasa enggan.
   
     3. Buatlah riset tentang bahan yang Anda tulis.
Penulis fiksi dan nonfiksi perlu meneliti bahan-bahan yang mereka butuhkan kecuali mereka sekadar menulis opini atau surat kepada penyunting. Kebanyakan penulis menganggap bagian ini terasa cukup membosankan. Biasanya, penulis begitu mencintai kegiatan tulis-menulis, alih-alih melakukan riset tentang subjek tertentu; mereka mengangap penelitian itu akan mengurangi jatah menulis mereka. Namun, apa pun yang Anda tulis harus didasarkan pada fakta. Jika tidak demikian, pembaca akan meninggalkan tulisan Anda begitu saja karena mereka telanjur tidak memercayai tulisan Anda. Walaupun perpustakaan adalah sumber yang bagus untuk melakukan riset sebuah subjek, Anda dapat mempercepat proses penelitian dengan menggunakan sarana internet.

      4. Berkelompoklah dengan penulis lain!
Tidak seorang pun langsung menjadi hebat tanpa pertolongan dari mereka yang menghargai tulisan seperti penulis. Klub penulis atau grup diskusi penulis dapat menjaga motivasi Anda untuk melanjutkan proses menulis Anda. Bergaul dengan orang-orang yang berpandangan sama dapat membukakan jalan bagi Anda untuk bertemu penyunting atau penerbit yang sedang mencari penulis untuk publikasi komersial.

      5. Banyak Membaca
Pebisnis dan penulis memunyai satu kesamaan: mereka sama-sama orang yang kuat membaca.
Jika Anda tidak banyak membaca, Anda tidak dapat mengembangkan gaya penulisan yang unik. Anda tidak mengetahui apakah yang digemari khalayak sehingga membuat Anda gagal memoles kata-kata yang menyenangkan mereka. Anda dapat menajamkan keunikan talenta Anda hanya dengan membaca.

      6. Terbitkanlah sesuatu.
Bahkan sekalipun tidak dibayar, tercetaknya nama dan artikel Anda di koran lokal dapat menjadi batu loncatan menuju karier yang baru. Agar banyak penerbit di dunia maya bersedia menerima tulisan Anda, Anda harus bersedia mendapat sebuah kritikan dan uang jasa yang minim. Pertimbangkanlah beberapa situs ini: Helium, Suite 101, Ehow, Associated Content, Constant Content, dan Submit Your Article. Jika Anda seorang penulis, Anda harus memunyai sebuah blog yang bisa menampung ekspresi dan tulisan Anda yang lain. Blogger dan Word Press menawarkan blog gratis.

       7. Bersenang-senanglah.
Walaupun tidak mendapat bayaran, banyak penulis menulis karena mereka dibuat bahagia saat menulis. Jika Anda menemukan jalan buntu, cobalah bentuk penulisan yang lain agar Anda dapat merasakan hembusan yang menyegarkan. Jika Anda menulis artikel, cobalah menulis fiksi, puisi, atau surat untuk redaksi atau seorang teman. Tulislah tip-tip atau ulasan buku. Tulisan-tulisan itu mungkin tidak untuk diterbitkan, namun temukanlah kesenangan pada saat mengerjakannya!
Yang Anda butuhkan dalam menerapkan disiplin menulis:
Pemroses teks, sebuah catatan harian, jurnal, blog, atau apa pun yang bisa menampung tulisan Anda.
Berbagi untuk teman-teman yang  hobby menulis
Bahan bacaan -- semakin beragam, semakin bagus.
Semoga Artikel ini bermanfaat...
Mendisiplinkan Diri Kunci Kesuksesan Menulis
Continue Reading →

Saturday, August 23, 2014

TIPS PEDE MENULIS

TIPS PEDE MENULIS

Serius tapi santai (sersan) merupakan dua slogan yang sering kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Demikian juga seharusnya saat kita menulis. Entah sudah berapa kali saya mengatakan bahwa yang paling penting bagi seseorang dalam menulis adalah menulis yang disukainya, menulis yang dikuasainya. Ketika kita menulis apa yang kita sukai, akan menimbulkan rasa senang dan happy untuk menyelesaikan. Ketika kita menulis apa yang kita kuasai, akan menimbulkan rasa bangga dan pede untuk menuangkannya. Pikirkan betul dua hal ini sebelum menulis.

Dua hal itu pula yang menyebabkan semua persoalan TIDAK HAPPY dan TIDAK PEDE dalam menulis. Bagaimana kita bisa happy kalau kita tidak menyukai bidang yang kita tulis? Bagaimana kita bisa pede kalau kita tidak menguasai bidang yang kita tulis?
Sekarang yang menjadi pertanyaan besar, bagaimana kita bisa tahu apa yang kita sukai dan apa yang kita kuasai?

TULISAN YANG KITA SUKAI:
Ketika kita senang pada satu jenis tulisan tertentu, kita akan bersedia melakukan hal-hal berikut ini.
1. Bila dalam kondisi lelah pun kita tetap mau menuliskannya.
2. Bila terasa kurang lengkap, kurang pas, kita mau mencari/menggali lebih dalam tentang materi yang berkaitan.
3. Tidak ada rasa jenuh meskipun kita sudah lewat 4 jam menuliskannya.
4. Memiliki semangat dan passion yang kuat terhadap materi tersebut.
5. Dapat melihat sesuatu yang berbeda dalam materi tersebut.
6. Kita langsung connect dengan materi tersebut di mana pun berada.
7. Pengennya mengetahui semua hal tentang materi tersebut.
8. Bisa membicarakan materi tersebut selama berjam-jam.
9. Mau mencari informasi lebih dan perkembangan tentang materi tersebut.
10. Mau tulisan kita diobrak-abrik, dikritik tajam, revisi habis-habisan, kita tetap semangat 45 untuk memperbaikinya sampai “terbaca” dengan “baik”.

Nah, kalau kita punya 1 keadaan saja dari apa yang saya sebutkan, maka sebenarnya kita sudah suka pada materi tertentu. Kalau sudah begitu, teruskan saja. Maka menulis di manapun, kapanpun, dalam kondisi apapun, kita tetap akan happy.

TULISAN YANG KITA KUASAI:
Tulisan yang kita kuasai, secara otomatis akan membuat kita pede dalam menulis. Sebenarnya batasan kita menguasai materi tulisan itu seperti apa? Begini aturan simpelnya.
Bila tanpa membaca referensi pun kita bisa menjelaskan materi yang akan kita tulis.
Kita bisa mengisahkan berulang materi yang sama dengan berbagai sudut pandang yang berbeda.
Kita mengalami langsung atau praktisi di bidang yang kita tulis.
Memiliki rasa dan kesan yang mendalam terhadap materi yang akan kita tulis.
Apa yang kita tulis tersebut telah menjadi “keseharian” kita. Jadi, mau dengan mata tertutup (tidak perlu pihak lain, referensi) kita telah bisa menuliskannya dengan cermat dan detail.
Ahli berdasarkan ilmu pengetahuan yang telah mendapatkan validasi; seperti dokter, apoteker, peneliti, ahli bahasa, dll.
Memahami konsep-konsep yang kita tulis secara mendasar, intinya apa, urgensi dan dasar penalarannya apa.
Kita terbiasa melakukannya, meskipun tidak memiliki “landasan teori” secara umum atau teori yang telah dibukukan. Misalnya; entrepeneur sukses, karena melakukan a,b,c,d, dst... tetapi tidak sesuai dengan teori entrepeneur yang diajarkan di bangku pendidikan.
Wawasan dan referensi yang luas mengenai bidang tersebut.
Mendengar/mendapatkan sesuatu langsung dari sumbernya; misalnya menuliskan biografi, kisah sukses, dll. dari narasumber langsung.

Kalau kita memiliki kriteria tersebut (boleh 1 saja), sebenarnya kita sudah boleh dibilang menguasai bidang tersebut. Nah, kalau sudah begitu, biasanya menulis itu langsung pede, dan tidak terlalu ambil pusing dengan “apa kata orang”.

CARA HAPPY DAN PEDE DALAM MENULIS
Lalu bagaimana caranya agar kita selalu happy dan pede dalam menulis?

Menulis itu sangat gampang. Yang penting bagaimana kita mengumpulkan data-data saat kita hendak menulis. Ini berlaku untuk tulisan apapun, baik fiksi maupun nonfiksi. Baik buku maupun skenario. Meskipun menulis fiksi, anda juga harus memastikan bahwa tulisan anda “tidak salah” secara konsep.
Tuliskan saja semua yang anda peroleh dalam pengumpulan data secara benar. Tidak usah pikirkan bahasa saya benar atau salah, yang penting data yang dimasukkan benar dan menyeluruh sesuai kepentingan.
Tuliskan semuanya dengan “cara anda sendiri” sampai selesai. Jangan pernah mengikuti cara penulisan orang lain. Tidak usah pikirkan orang lain, yang penting anda senang, anda mampu menyelesaikannya.
Biarkan tulisan anda mengendap 1-2 hari. Tidak usah dipikirkan, tidak usah dibahas.
Cari orang terpercaya, untuk membaca dan memberi masukan.
Perbaiki sesuai masukan orang terpercaya dan pemikiran anda sendiri.
Bila anda sedang memiliki kelebihan uang, cari ahlinya untuk memeriksa tulisan anda. Bisa editor freelance, bisa ahli-ahli yang menyediakan layanan jasa pemeriksaan tulisan.
Bila tidak ingin membayar, cari orang lain lagi yang bisa “membaca” yang gemar membaca untuk memberi masukan dari sudut pandang pembaca.
Perbaiki dan cek seluruh kebenaran maupun tata penulisan dari buku-buku yang membahas tulisan. Minta sahabat dekat untuk membantu pemeriksaan.
10.  Jangan pernah menunggu sempurna untuk mengirimkan naskah ke media atau penerbit. Kalau ditolak, itu lebih bagus karena anda sudah memiliki modal untuk beranjak diterima.

Simpelnya, kita jangan banyak berpikir, jangan banyak memikirkan “apa kata orang” ini lahintu lah santai za. tentang tulisan anda, menulis saja sampai selesai, lalu ikuti prosedur publikasi atau penerbitan naskah, maka lambat laun anda akan terbiasa menulis dengan happy dan pede.
semoga ber manfaat
#berbagai sumber


Continue Reading →

Friday, August 22, 2014

Cara Menulis Bahasa Jurnalistik

Buat Anda yang ingin menjadi seorang Jurnalistiktidak ada salahnya untuk Membaca artikel ini
Beberapa Patokan dalam Menulis Bahasa Jurnalistik yang perlu anda ketahui
Mungkin perna berpikir bagaimana kita dapat membuat suatu berita/artikel berita dan membuat berita tersebut menarik untuk di baca dan tetap kita pun memiliki setandar tulisan yang sedikit lebih formal dibanding kan tulisan biasa pada umumnya.
Sebenarnya bagi sebagian orang yang berkecimpung dalam dunia jurnalistik mereka dapat mengolah kata seperti tidak biasa tulisan pada umumnya, biasanya bahasa jurnalistik memiliki sifat-sifat khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik.
Dalam hal ini, marilah kita tetapkan beberapa patokan dalam menggunakan bahasa jurnalistik.
Cara Menulis Bahasa Jurnalistik
Pengarang Amerika Ernest Hemingway yang memenangkan Hadiah Pulitzer dan Hadiah Nobel di waktu mudanya menjadi wartawan surat kabar Kansas City Star. Di situ dia sambil bekerja diberi pelajaran tentang prinsip-prinsip penulisan berita. Pelajaran itu baik sekali dijadikan pedoman oleh wartawan Indonesia, apakah dia bekerja pada kantor berita, surat kabar, majalah, atau pada radio dan televisi. Prinsip yang diajarkan kepada Hemingway ialah sebagai berikut.
Beberapa prinsip penting dalam menulis dalam dunia jurnalistik
1.        Menggunakan kalimat yang pendek
Bahasa ialah alat untuk menyampaikan cipta dan informasi. Bahasa diperlukan manusia dalam berkomunikasi. Wartawan perlu memahami bahwa supaya apa yang disampaikannya kepada khalayak (audience) betul-betul dapat dimengerti oleh orang. Kalau tidak demikian, maka bisa di katakan gagallah wartawan itu karena dia tidak komunikatif dalam memberikan berita. Salah satu cara, dia harus berusaha menjauhi penggunaan kata-kata teknik ilmiah atau kalau terpaksa juga, dia harus menjelaskan terlebih dahulu apakah arti kata-kata tersebut. Dia harus menjauhi kata-kata bahasa asing. Kalau maksud tercapai dengan memakai perkataan "ikut-sertanya", "keikutsertaan", maka baiklah diurungkan niat menuliskan perkataan yang lebih sulit, yaitu "berpartisipasi".


2.        Menggunakan bahasa yang mudah di pahami
Umumnya pengguna Media massa, yaitu pembaca surat kabar, pendengar radio, penonton televisi terdiri dari aneka ragam manusia dengan tingkat pendidikan dan pengetahuan yang berbeda-beda, dengan minat perhatian, daya tangkap, kebiasaan yang berbeda-beda pula. Mencapai khalayak yang beraneka ragam dengan berhasil merupakan masalah yang berat bagi wartawan. Bagaimanakah caranya supaya sedapat mungkin bertemu? Injo Beng Goat, pemimpin redaksi harian "KengPo" di Jakarta tahun 1950-an mempunyai semacam rumus. Dia berkata kalau dia hendak menulis tajuk rencana, maka yang dibayangkan di depan matanya ialah pembaca yang pukul rata berpendidikan sederhana, katakanlah tamat SMP. Dengan patokan demikian dia berusaha menulis sesederhana dan semudah mungkindi pahami pembaca.

3.        Menggunakan bahasa sederhana
Kalimat bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ia terdiri dari kata pokok atau subjek (S), kata sebutan atau predikat (P), dan kata tujuan atau objek (O). Misalnya, kalimat "Si Amin (S) pergi ke pasar (P) membeli sebuah pena". Kalimat demikian sudah lengkap berdiri sendiri. Karena terpengaruh oleh jalan bahasa Belanda atau bahasa Inggris, ada orang Indonesia yang biasa pula menulis kalimat yang panjang, berbentuk "compound sentence", kalimat majemuk dengan induknya dan anaknya yang dihubungkan dengan kata sambung. Misalnya, dia menulis, "Si Amin pergi ke pasar beli sebuah pena yang mana merupakan pemborosan tenaga oleh karena telah dikatakan kepadanya bahwa pena itu dapat juga dibeli di toko seberang rumahnya sehingga segala sesuatu lebih mudah jadinya". Dengan menggunakan kalimat majemuk, pengutaraan pikiran kita mudah terpeleset menjadi berbelit-belit dan bertele-tele. Sebaiknya, wartawan menjauhkan diri dari kesukaan memakai kalimat majemuk karena bisa mengakibatkan tulisannya menjadi "woolly" alias tidak terang.

4.        Menggunakan bahasa tanpa kalimat majemuk.
Membuat berita menjadi hidup bergaya ialah sebuah persyaratan yang dituntut dari wartawan. Berita demikian lebih menarik dibaca. Bandingkanlah, misalnya, kalimat yang berbunyi, "Si Amin dipukul babak belur oleh si Poltak" dengan kalimat yang berbunyi, "Si Poltak memukul si Amin babak belur".
Tidakkah terasa kalimat yang kedua jauh lebih hidup bergaya? Kecuali tentunya jika fokus hendak dijuruskan pada si Amin yang membuat kalimat pertama dapat dipertanggungjawabkan, maka umumnya cara menulis dengan kalimat kedua, yaitu dalam bentuk aktif lebih disukai dalam dunia jurnalistik. Kalimat pasif jarang dipakai, walaupun ada kalanya dia dapat menimbulkan kesan kuat.

5.        Menggunakan bahasa dengan kalimat aktif, bukan kalimat pasif.
Wartawan muda sering kali suka terbawa menulis dengan mengulangi makna yang sama dalam berbagai kata. Ini dapat dipahami, apalagi jika dia hendak berkecimpung dalam dunia lirik dan puisi. Dia mengira dengan demikian tulisannya menjadi lebih indah. Misalnya, dia menulis kalimat berikut, "Siapa nyana, siapa kira, siapa sangka hati Ratih hancur-luluh, runtuh-berderai karena gadis jelita elok rupawan si manis Indah". Bahasa jurnalistik tidak menghajatkan hal demikian karena kata-kata yang dipakai harus efisien dan seperlunya saja. Kembang-kembang bahasa harus dihindarkan. Bahasa jurnalistik harus hemat dengan kata-kata.

6.        Menggunakan bahasa padat, kuat dan berisi.
Pengarang Ernest Hemingway juga mengemukakan sebuah prinsip lain dalam penulisan berita. Kita bisa menulis umpamanya kalimat berikut, "Wartawan Sondang Meliala tidak menghendaki penataran wartawan olahraga". Kalimat ini secara teknis dinamakan berbentuk negatif (lihat perkataan "tidak menghendaki"). Akan tetapi, dengan arti yang persis sama, kita bisa pula menulis, "Wartawan Sondang Meliala menolak penataran wartawan olahraga". Kalimat ini dinamakan berbentuk positif (perkataan "menolak" positif sifatnya dibandingkan dengan perkataan "tidak menghendaki" yang mengandung perkataan "tidak" dan karena itu bersifat negatif. Manakala di antara kedua kalimat tadi yang kita pilih? Hemingway menasihatkan supaya sedapat-dapatnya kita menulis dalam bentuk kalimat positif. 

7.        Menggunakan bahasa positif, bukan bahasa negatif.

Demikianlah artikel ini di buat tentang bahasa jurnalistik Indonesia.
Definisinya diberikan, sifat-sifat khasnya dicirikan, yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas, dan menarik.
Pendasarannya diunjukkan, yaitu harus berdasar bahasa baku.
Pokok-pokok aturan tata bahasa Indonesia tidak boleh diabaikannya.
Ejaan baru ditaatinya.
Dalam pertumbuhan kosa kata, dia mengikuti dan mencerminkan perkembangan masyarakat. (berbagai sumber)
semoga artikelini bermanfaat buat anda yang tertarik untuk terjun dalam dunia Jurnalistik
Cara Menulis Bahasa Jurnalistik
Continue Reading →

Saling berteman

Posting Terbaru

Popular Posts

Blog Archive